Selasa, 09 Februari 2016

Catatan : Surprianto Albhugies
Identitas Kerajaan Bolango di Mata Generasinya

KERAJAAN Bolango mungkin tak seeksis kerajaan besar yang lainnya di Indonesia seperti Kerajaan Kutai, Kartanegara, Sriwijaya, dan Mataram. namun dari informasi yang berhasil dirangkum menyebutkan Kerajaan Bolaango merupakan salah satu kerajaan kuno yang mampu bertahan sampai akhir abad 19 di indonesia.
Kerjaan Bolango yang pertama berdiri sejak abad ke 16 merupakan kerajaan dari etnies Bolango atau Mobaraango yang dalam artian bahasa Indonesia adalah masyarakat penyebrang atau perantau.
Dari hasil wawancara dengan anak kandung dari Raja Bolango yang terakhir Ahmad Van Gobol menyebutkan, Kerajaan Bolango sendiri awalnya dibangun Batang Dua Ternate yang dipimpin oleh raja pertamanya Raja Wintu Wintu, diawal pergerakanya Kerajaan Bolango sudah sering berpindah pindah tempat, salah satu daerah yang pernah disinggahi Pulau Lembe dan Tapa Provinsi Gorontalo.
Meski belum ada dokument resmi yang jelas menuliskan tentang asal-usul kerajaan ini, namun menurut Ahmad Van Gobol, Kerajaan Bolango dari awal terbentuknya hingga menyatakan diri bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sempat diperintah oleh 24 raja.
Yang lebih menarik, Sistem pemerintahan dari awal terbentuknya hingga akhir masa kejayaannya diketahui sudah menganut sistem demokrasi. Menurut Ahmad VanGobol raja raja dipilih oleh rakyat. "Raja dipilih langsung oleh rakyat meski pada dasarnya yang dipilih harus keturunan raja,"terangnya.
Sementara itu, dari 24 raja yang pernah memimpin kerajaan Bolango diantaranya adalah raja perempuan (ratu) diantaranya, Putri Tingtingio dan Putri dao peyago.
Ahmad juga mengatakan, ada 4 raja yang pernah mendiami kerjaan Bolango diantaranya Raja Welem (Raja 21), Raja Gardamon (Raja 22), Padoeka Toean Hasan VanGobol (Raja 23) dan Raja Arie Ali Banzer.
Salah satu raja yang paling disegani khususnya wilayah kerajaan Bolango saat berdiri di Bolaang Uki adalah Padoeka Toean Hasan Van Gobol Raja ke 23, beliau dikenal berhasil memperatukan masyarakat Bolaang Uki yang dulunya masih terpisah-pisah, sedangkan raja yang paling termahsyur bernama Abraham Dua Wulu Van Gobol raja ke 16 yang juga merupakan silsilah pertama marga Van Gobol.
Raja Hasan pun memili 4 orang istri, istri pertama dua anak diantaranya Edwar Van Gobol dan Arie Ali Banzer (raja ke 24, raja terakhir kerajaan bolaang uki). Dimasa pemerintahannya Raja Bolango juga dikenal memiliki singgasan yang diberi julukan Masangi atau harimau, sedangkan keris pusakanya bernama Hinaga atau Naga.
Karena kerajaan ini berpindah-pindah, satu-satunya kerajaan yang cukup besar yang pernah di bangun tepatnya berada di Kecamatan Bolaang Uki Bolsel. Yang sangat disayangkan bukti sejarah kerajaan yang pernah berdiri kokoh disekitaran lapangan Desa Molibagu itu tinggal puin karena dilandah kebakaran pada tahun 1960 dimasa permesta.
Berdasarkan beberapa referensi, kerajaan ini awal terbentuknya sudah memeluk agama islam karena menurut Ahmad Van Gobol, sangkut paut kerajaan ini sangat kuat dengan Kesultanan Tidore.
Diakhir-akhir masanya, pada tahun 1945 hingga 1950 Raja Ali Banzer diketahui tak lama menjadi raja, karena menyatakan untuk bergabung dengan NKRI.
Dimasa itu tahun 1952 dewan raja-raja menyatakan diri bergabung dengan NKRI, di dewan raja-raja itu terdiri dari Raja Bolango, Raja Mongondow, Raja Kaidipan, Raja Bintauna dan Raja Bolangitan.
Kerajaan Ali Banzer pun waktu itu sontak diangkat menjadi Wedono (jabatan pemerintahan sekelas Kapolres atau Kejati) untuk wilayah Kaidipan Besar.
Hingga kini, sejarah tinggal sejarah, beberapa peninggalan kerajaan saperti istana hangus terbakar, dan beberapa peninggalan kerajaan lainnya sudah ditangan anak cucunya, diantaranya Mahkota Raja Ali Banzer yang terbuat dari emas ada pada anak sulungnya di Kota Makassar sedangkan, tongkatnya berada pada cucu istri terakhir Raja Hazan. (ant)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar