Carut Marut Idealisme Jurnalis
![]() |
| Anto Bhugies |
Mungkin banyak yang bertanya. "Apa sebenarnya yang saya maksud dengan profesi wartawan diatas," yaa.! istilah yang sengaja saya sentil ini adalah idealisme wartawan yang banyak berkeliaran di masa kini.
Nahh..! dari beberapa referensi yang saya baca, yang saya maksud dengan wartawan CT adalah wartawan yang tidak sama sekali memiliki media, modus mereka hanya menggunakan beritanya untuk memeras narasumber atau hanya untuk mencari jatah amplop saja.
Sementara itu, wartawan pispot adalah wartawan yang tidak bertindak secara profesional. Wartawan pispot mencari berita tapi tidak mempersiapkan bahan wawancaranya. “Wartawan yang hanya ikut-ikutan merekam pembicaraan narasumber, tinggal nodong dan mengikuti alur wartawan lain,” Ada pula, wartawan kloning yaitu wartawan yang menjiplak berita orang lain.
“Dikasih atau meminta amplop itu sama saja, karena pasti akan menganggu independensi kita sebagai jurnalis. Tidak mungkin kita bersikap netral dan independen jika kita sudah menerima amplop, sekalipun dalam hati,"
idealisme jurnalis saat ini sedang digoyangkan oleh berbagai macam jenis amplop. Amplop yang diberikan bukan hanya dalam bentuk uang saja, tapi juga dalam bentuk tiket pulang kampung, paket liburan gratis, bingkisan, souvenir, cinderamata, uang transportasi, makan, dan sebagainya.
Berbagai macam jenis amplop ini, terkadang membuat para wartawan terkecoh dan sulit membedakan mana yang murni pemberian, mana yang berupa sogokan. Namun, satu hal yang perlu dicatat, hakikat amplop sendiri merupakan segala pemberian dari pihak lain atau narasumber yang dapat mempengaruhi independensi wartawan dalam pemberitaan.
Saahrul setiawan, ketua aktivis IMM Sulawesi Utara juga sempat mengkritisi hal ini, juga berbicara tentang tantangan idealisme jurnalis saat ini yang berbeda dari masa Orde Baru. “Dulu yang menghalangi idealisme wartawan adalah teror dari penguasa dan aparat, tapi sekarang yang menggoyangkannya adalah intervensi pihak lain demi kepentingan pribadi,” ungkapnya.
Ia juga mengunkapkan, salah satu faktor penyebab goyahnya idealisme jurnalis adalah konglomerasi media. Ketika idealisme media tersebut mengintervensi ruang redaksi, maka hal itu juga akan membahayakan idealisme sebagai jurnalis independen.
Selain konglomerasi media, faktor kesejahteraan juga menjadi salah satu alasan wartawan meninggalkan idealismenya. Banyak media yang tidak menyuplai wartawannya dengan fasilitas yang layak.
Beberapa media lokal di sejumlah kota yang tidak memenuhi kesejahteraan wartawannya, sehingga banyak di antara mereka yang beralih menjadi wartawan bodrex. Sampai-sampai para wartawan tersebut mempertanyakan kesejahteraannya sendiri.
Sementara itu, Waldy Mokodompit, General Manager SKH Posko Manado mengatakan, bagaimanapun juga, wartawan membutuhkan fasilitas seperti alat transportasi dan akomodasi saat bertugas. Jika tidak dipenuhi perusahaan, mungkin saja wartawan akan mudah menerima amplop dari pihak lain. Dengan begitu, isi pemberitaan wartawan tersebut akan mudah berubah dan hilanglah independensinya.
Di samping dua faktor di atas, faktor kesadaran dari wartawan juga sangat penting. “Menjaga idealisme dan independensi bukanlah hal yang mudah,” imbuh Najib. Menurutnya, setiap jurnalis harus dapat membedakan antara realitas dan bersikap realistis. Jika sudah tidak dapat memegang teguh independensinya sebagai jurnalis, sebaiknya lepaskan saja profesinya. Pekerjaan sebagai jurnalis ini terlalu suci untuk dinodai dengan hal seperti itu, karena kita bekerja untuk rakyat, masalah mendasar ini terletak pada konsistensi jurnalis sendiri.
Idealisme jurnalis adalah melaksanakan tugas sesuai dengan kode etik. Prinsip dasarnya adalah menyampaikan kebenaran, bersikap independen, dan meminimalisir dampak buruk dari pemberitaan yang dibuat.
Untuk mempertahankan idealisme dan independensi jurnalis, sejumlah pendapat mengatakan, wartawan harus menjadikan profesi jurnalis menjadi pilihan utama, menjaga idealisme segigih mungkin, dan tak sekedar mencari uang , namun juga mengedepankan nilai pengabdian pada publik. Ketika seorang wartawan kehilangan independensinya, maka hancurlah nilai-nilai profesionalisme dan kebanggaannya sebagai jurnalis. (ant)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar